ADAB BERTAMU (Masuklah ke rumah orang lain dalam keadaan BUTA, Dan keluarlah dalam keadaan BISU)

ADAB BERTAMU (Masuklah ke rumah orang lain dalam keadaan BUTA, Dan keluarlah dalam keadaan BISU)

ADAB BERTAMU (Self Reminder)

1. Masuklah Ke Dalam Rumah Orang Lain Dalam Keadaan Buta.

Maksudnya adalah kita tidak melihat kondisi rumah orang lain. Tidak mencari tahu keadaan rumah itu seperti apa atau hanya sekedar melirik-lirik dan mengawasi rumah yang sebenarnya itu bukan urusan kita.

2. Dan Keluar Rumah Orang Lain Dalam keadaan Bisu.

Maksudnya tidak menceritakan keadaan rumah itu kepada orang lain. Karena sudah jelas bahwa apapun yang ada di rumah itu, itu bukan urusan kita.

Adab bertamu seperti itu sekarang sangatlah jarang di lakukan. Mungkin masih ada sebagian yang masih memperhatikan dan melakukan adab bertamu, dan ada juga sebagian yang sudah tidak melakukan adab bertamu ini.

Contohnya yang masih memperhatikan adab bertamu, mau di rumah (yang di kunjungi) itu berantakan, mau di rumah itu banyak mainan berserakan, ataupun masih kotor karena belum di pel. Tapi dia tidak pernah menceritakan rumah yang masih berantakan itu kepada orang lain atau menggiring opini orang lain supaya mereka berpikiran negatif kepada yang punya rumah itu. Sama sekali tidak !

Jika di dalam rumahnya itu ada balita atau anak kecil. Pasti dia akan mengerti bahwa yang punya rumah memiliki anak balita atau anak kecil yang memang pada seumuran itu sedang aktif-aktifnya dalam bermain. Dan siapa tahu juga ada yang sudah terjadi di dalam rumahnya itu yang kita tidak tahu.

Misalnya ada yang sakit, atau yang punya rumahnya sedang sakit, sehingga belum sempat untuk membersihkan. Ataupun sudah di bersihkan, tapi yang namanya punya anak balita pasti tidak 100% rumah itu bisa bersih, rapi dan wangi. Dan tiap anak pasti berbeda tingkat ke-aktifan dan kesukan dalam bermainnya, ada yang suka bermain air, bermain tanah, ataupun mainan yang lainnya.

Baca juga : 

Beda lagi dengan yang tidak memperhatikan adab bertamu. Ketika bertamu dan melihat di rumah itu berantakan, banyak mainan berserakan, mereka menjadikan itu sebagai bahan untuk ghibah kepada yang lainnya. Dia membicarakan keadaan rumah yang berantakan itu kepada orang lain seakan rumah itu tidak pernah rapi dan bersih.

"Ehh, kemarin aku ke rumah si A lho, eh rumahnya berantakan banget."

Atau

"Kemarin aku ke rumahnya si B lho, eh rumahnya kotor banget."

Atau sekarang zaman media sosial, zaman serba viral, apa-apa di tulis di media sosial. Di tulislah di media sosialnya bahwa rumah si A itu jorok, berantakan, di tambah dengan foto rumahnya. Lalu banyak yang berkomentar dan menjelekan si pemilik rumah itu alhasil mereka ghibah berjamaah dan ghibah online.

Apa itu Ghibah?

Ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim. Sedang dia tidak suka jika hal itu di sebutkan. Atau membicarakan 'aib orang lain sedangkan yang di bicarakan itu tidak ada saat pembicaraan.

Masalah ghibah kelihatannya seperti masalah yang spele dan ringan, tapi kenyataannya ghibah itu dosa besar. Dan dosa yang akan di peroleh dari ghibah adalah ibarat memakan daging saudaranya yang sudah mati.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala, berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اجْتَنِبُوْا كَثيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمُ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُم أَنْ يَأكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۚ وَاتَّقُوْا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوّابٌ رَحيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka.

Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.

Janganlah kamu mencari kesalahan orang lain dan jangan di antara kalian menggunjing sebagian yang lain.

Apakah di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? tentu kalian akan merasa jijik.

Bertakwalah kalian pada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.”

(Al-Qur'an surah Al-Hujurat : 12)

Maukah kita memakan daging saudara kita yang sudah mati?

Padahal daripada kita menghibah keadaan rumah orang lain lebih bagus kalau kita bantuin yang punya rumah yang kata kita rumahnya berantakan atau kotor itu pasti yang punya rumah bahagia banget kan, karena meringankan sebagian beban pekerjaannya.

Bisa juga dengan kita langsung membicarakan, menasehati atau menjelaskan kepada yang punya rumah dengan kata-kata sopan dan lembut misalnya menjelaskan bahwa kebersihan itu sebagian dari Iman.

Atau minimal kalau kita ingin bertamu ke rumah orang, tapi ingin rumahnya bersih banget, cobalah untuk membuat janji. Whatsapp dulu temannya bilang bahwa kita mau berkunjung ke rumahnya, dengan begitu yang punya rumah pasti akan membersihkan rumahnya serapih-rapihnya.

Karena kita tidak tahu ya, mungkin saat kita bertamu, mungkin saja saat itu pas rumahnya itu berantakan atau belum di pel, tapi bukan berarti rumahnya itu tidak pernah bersih dan tidak pernah rapi.

Jadi inti dari tulisan ini, masuklah ke rumah orang lain dalam keadaan buta dan keluar dalam keadaan bisu.

Karena apa yang kamu lihat dan kamu dengar di rumah mereka, itu bukan urusanmu.

Tetap selalu berusaha supaya bisa HIDUP BERSIH dengan MENJAGA KEBERSIHAN.

Dan sebisa mungkin juga untuk menjauhi yang namanya ghibah. Sebisa mungkin untuk tidak membicarakan kejelekan orang lain kepada yang lainnya. Karena kita juga pasti punya kejelekan atau kekurangan yang mungkin lebih dari orang lain.

Postingan ini nasehat dan pengingat khususnya untuk diri sendiri.

Dan berharap semoga bisa bermanfaat untuk yang membacanya. Aamiin

📝 @Yunsriway #Yunsriway

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel